Selasa, 12 November 2013

Rumah Makan Bu Ageng - Edisi Malam

Restoran ini saya dan keluarga kunjungi tidak lain karena kami mendengar pemiliknya adalah seorang seniman terkenal di Indonesia, tidak bukan adalah bapak Butet Kertaradjasa. Kebetulan ketika kita makan disana, beliau sedang makan malam bersama para koleganya namun saya mengurungkan  niat untuk foto bersama karena malu. That's how I adore, staring from distance *grin*

"Warung Masakan Omah - Indonesian Cuisine: Bu Ageng"
Tempat makan yang terletak di Jl. Tirtodipuran ini kami akses melalui kendaraan pribadi kira-kira 30 menit dari Jl. Mrican Baru tanpa macet. Kami pun makan malam tepat waktu. Interior ruangan remang-remang dan nyaman. Memasuki restoran, terlihat beberapa meja diduduki oleh turis-turis asing. Dekorasi yang langsung menarik perhatian dan membuat saya mengambil gambar adalah sekumpulan potrait orang-orang di masa lalu dengan nuansa Vintage. Membuat serasa makan di rumah lama ditambah dengan desain pojok interor berupa lemari kayu dan perabotannya.





Mascarpone - Tiramisu From Italiano


ciao, buon pomeriggo. yesterday's morning iseng-iseng bikin cake yang adonannya udah lama dibeli sama kakakku. Hasil browsing, dapetlah recipe eggless and non-alcohol tart, and bake-less too! So it's worth to try - nggak ada alesan nggak punya waktu karena ribet and so on.

so here's the deal,



all you need is 250 mg mascarpone cost Rp 30.000
                        1 pack of lady fingers biscuit, approximately Rp 33.000
                        6 tbs of sugar (I'd used local sugar, it is more sweet) appr. Rp 11.000/kg
                        5 tsp coffee
                        250 ml liquid cream appr. Rp 25.000
                        500 ml air
                        Cocoa Powder

First thing first, you have to boil the water to mix with coffee powder. Rebus hingga air berkurang hingga 1/3 nya. Setelah itu dibiarkan hingga temperatur menjadi suam-suam kuku untuk dicelupkan oleh biskuit lady fingers-nya. Here's the tricky part, ga usah lama-lama ketika nyemplunginnya, yang cepet aja, yang penting dua sisinya kena. Sambil nunggu suhu rebusan kopi berubah, sebaiknya bikin adonan untuk layernya.



Here is how to make the dough. Blend krim cair dan gula hingga rata. Kalau saya sih pake handheld mixer dan rasanya tetap enak. Pilihan yang direkomendasikan adalah whisk besar atau mixer - yang gampang dan praktis. And then masukan adonan mascarpone siap sajinya.


Now is the right time for you to put in the lady finger into the warm coffee. After that, susun dalam loyang. Kalau nggak ada boleh pake pyrex. Aku pribadi sih di tupperware aja - yang langsung keliatan begitu membuka lemari. Setelah itu tuang adonan mascarpone yang tadi diaduk keatas susunan lady finger secara merata. Kemudian susun lagi lady fingernya sehingga membuat lapisan dan ditutup oleh adonan terakhir. 

like this
Setelah semua adonan habis dituang, tutup dengan coklat bubuk diatasnya.



Masukan ke dalam kulkas, setelah 3 jam udah bisa kamu santap! nyumm...






Senin, 09 September 2013

Tedak Siten


Tedak siten adalah suatu upacara dalam tradisi budaya Jawa yang dilakukan ketika anak pertama belajar jalan dan dilaksanakan pada usia sekitar tujuh atau delapan bulan.
Secara keseluruhan, upacara ini bermakna untuk mengajarkan konsep kemandirian pada anak. (Sumber Wikipedia)
Hari ini sangat menyenangkan karena keponakan saya yang bernama Rr. Anggita Madeena Citrahayi atau yang biasa dipanggil Emma merayakan upacara adat "Tedak Siten" seperti yang sudah dijelaskan diatas, merupakan upacara tradisional "Turun Tanah" yang dilakukan oleh orang adat Jawa. Kebetulan kakak ipar saya totok alias Jawa asli yang konon neneknya itu merupakan salah satu selir dari Hamengkubuwono (berapa gitu) dari 40 selir yang ada.

Acara yang bertempat di rumah besan - Sleman, Jogjakarta - berlangsung dengan meriah dengan didirikannya panggung dan sajian buffet untuk makan siang. Peralatan yang digunakan pun terbilang lengkap plus seorang MC asli Jawa yang menjadi narator selama upacara berlangsung sehingga tamu yang menonton tidak kebingungan dengan begitu banyaknya barang dan aksi adat yang sarat dengan simbolik. Seperti awalnya, sang anak - Emma - harus mencuci kaki pada baskom emas yang telah disediakan kemudian melewati wajik (adonan seperti dodol) 6 warna. Setiap injakannya pada warna wajik tertentu mewakili harapan kepada kehidupan. Seperti wajik warna putih, harapan akan selalu ingat kepada Tuhan yang maha esa dalam tiap langkahnya. Dan seterusnya untuk warna coklat, hijau, merah muda, dan lain-lain. Dibawah ini momen yang berhasil diambil namun mohon maaf yah kelihatannya dari belakang, tapi tetap keambil kok suasananya hahahaha *defensif*

Prosesi Menginjak Wajik 6 Rupa dituntun oleh Orang Tuanya

 "Senin, Selasa, Rabu..." dan Emma pun menangis ketika hari Minggu
Raut muka betek Emma di kursi tebu
Setelah itu, sang anak disuruh menapaki tangga yang terbuat dari batang tebu dengan harapan hari-hari yang dilalui akan manis seperti tebu. Sembari ditapaki, narator mengucapkan nama-nama hari sesuai dengan tapakan kaki. Selesai menapaki tangga, sang anak didudukan pada kursi kecil yang terbuat dari batang pohon tebu yang serupa.

Emma akan dimasukan ke dalam kurung
Kemudian bagian yang ditunggu pun tiba, yaitu bagian ketika si anak dimasukan ke dalam kurungan besar serupa kurungan ayam dan disitu dia harus memilih barang-barang yang masing-masingnya mempunyai arti sendiri. Benda yang diambil itu dapat mewakili profesi atau hal-hal yang dia senangi ketika besar. Benda pertama yang diambil Emma adalah boneka, kata sang narator, itu tandanya Emma akan tumbuh menjadi anak yang feminim. Kemudian sempoa warna-warni. Tandanya Emma akan senang berhitung, "menghitung apa? Tentunya menghitung rejekinya sendiri..." Amin. Kemudian benda terakhir yang diambil dan tidak dilepas-lepas adalah ratusan ribu uang rupiah beserta dolar yang ditaruh. Tandanya Emma senang mencari duit. Well, who doesn't?!

Simbol dari kurungan adalah seorang anak yang tidak keluar dari norma  sosial




Dolar yang masih dipegang ketika prosesi mandi kembang oleh para Eyang




Setelah dimandikan kembang oleh para Eyang Kakung dan Eyang Putri, Emma diberikan sebuah tombak yang lagi-lagi terbuat dari batang tebu, dengan ayam bakar yang dicolok diatasnya. Ayam bakar yang mati dengan cara sangat amat pedih saya pikir, karena mulutnya terbuka lebar dengan badan yang hangus. Anyway, prosesi ini adalah sebagai lambang Emma akan tumbuh sebagai anak yang pemberani.

Tongkat kebesaran anak dengan puncak ayam yang menyedihkan

Sementara itu, para Eyang Putri melempar uang yang telah dilinting disertai dengan permen dan butiran kacang hijau agar lemparannya mungkin menyebar *ngasal* 



Tamu yang diundang dari lembaga asing pun berebutan mengambil uang

Lintingan uang terdiri atas lembaran recehan 2000 dan 5000 rupiah. Ada juga diselipkan nomor door prize. Sementara itu bocah yang telah dimandikan pun telah berganti baju. Prosesi selanjutnya adalah Emma membagikan mainan kepada para undangan sebagai wujud sifat welas asih dan pemurah

Emma dan telur rebus siap dibagikan

Berebutan mainan tradisional yang sekarang mulai susah didapatkan

Last but not least, my lovely beautiful niece, cheers! 









Selasa, 07 Mei 2013

Palmerah - Ciputat

Hari ini ngerasain bobroknya sistem transportasi dan tata kota di Jakarta. First of all I decided to take a train and I'm being the most on time person in office as soon as the timer is ringing - yupe, my office has a bell like in any other schools. Udah seneng banget ngebayangin sampe rumah jam 6 dan bisa gegoleran nonton Friends di channel Warner Bross TV. Walaupun mungkin episode-nya udah ditonton ratusan kali but still that's the quality time of my one hour life. But no! I have to bury my fucking hope because of (again and again) the train has a trouble time. Katanya ada yang mogok di salah satu stasiun, udah gitu stasiun yang saya tuju lagi. Melihat peron sudah mulai sesak dijejali oleh ratusan orang yang terus-terusan datang untuk pulang (atau kemanalah tujuan mereka setelah pulang kerja), saya dan kakak saya memutuskan untuk menggunakan transportasi lain - Saking frustrasinya melihat jadwal kereta yang bermasalah dan Rachel dkk. mulai menari-nari di kepala, saya lupa mengembalikan tiket kereta yang sudah dibeli. Bye bye tiket yang belum dipakai... We decided to take ojek or if the price is too high I suggested to going by taxi or even bus. Secara macetnya sama ini kan.
          Setelah tawar menawar yang dibumbui pura-pura meninggalkan pangkalan ojek demi harga yang dimau, didapatlah harga Rp 60 ribu - tapi akhirnya dibayar Rp 75 ribu/ojek karena ditengah jalan hujan turun sangat derasnya. Seperti biasa, di tempat-tempat yang ada flyover/by pass agak tersendat dikarenakan pemakai kendaraan bermotor yang lain menjadikannya tempat untuk berteduh. Belum lagi,  beberapa titik (lebih tepatnya sih banyak titik) ruas jalan yang berubah menjadi kali dadakan, bonus dengan aliran derasnya. Padahal hujan lebat turun belum ada jangka waktu satu jam.
         Ada yang bilang pengerukan tanah di Jakarta semakin tidak terkontrol, di sisi lain dikarenakan tumpukan sampah yang tidak pada tempatnya, sehingga menghambat saluran-saluran. Ada juga dikarenakan lahan yang seharusnya dijadikan tempat penyerapan ditiban oleh semen dan aspal - dengan kata lain, aliran air pun tergenang dan tidak bisa disimpan dalam bumi. Huft. Apapun itu, membuat saya ingin pindah domisili. Tapi kemana? Kota-kota besar di Indonesia sekarang ini memiliki masalah yang sama. Kemacetan dan banjir. Bahkan di kota Bandung yang dikenal dengan sebutan kota kembang, pada arteri-arterinya mulai diberlakukan 4 in 1. Kalah dong Jakarta. Dan Bali nggak usah ditanyain deh ya berhubung sedang ada proyek pembangunan bandara secara besar-besaran juga. Walaupun rumah saya di selatannya Jakarta (bukan Jakarta Selatan), namun imbasnya tetap terasa. Secara mata pencaharian dan sosialisasi tidak lepas dari daerah sana.
           I don't want to fight alone to make this world (at least, city) a better place. But until then, this is my fight :)


Hoahm... siwer mikirin Jakarta



Minggu, 21 April 2013

Letters To

Hari ini adalah hari perayaan nasional dengan nama "Hari Kartini" sesuai dengan  Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, pada zaman pemerintahan Soekarno waktu itu (sumber: wikipedia) sekaligus hari lahirnya Kartini. Dalam keputusan tersebut beliau juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Bagaimana tidak, menurut saya, isu-isu yang diutarakan pada Kartini melalui surat-suratnya menyiratkan pemikiran yang sangat modern pada abad 19 sebagai perempuan dari bangsa yang masih terjajah. Uniknya, pemikiran yang ia ungkap masih dijadikan perdebatan hingga masa sekarang dengan pro dan kontra yang tidak (atau belum, atau tidak mungkin) absolut. Ia mengangkat topik yang saat itu kemajuan teknologi belum maju sehingga kognitifnya tidak dicemari oleh opini publik yang berkembang pesat seperti sekarang. Surat-suratnya dapat dibaca disini . Tidak akan idenya muncul karena membaca timeline twitter perempuan hedonis, newsfeed facebook, atau karena sedang meng-update berita dari yahoo news.
              I'm wondering then, tulisan seperti apa yang akan ia muat jika menjadi jurnalis pada masa sekarang ini? Apa tanggapannya mengenai konsep feminisme? Dan apakah dia tetap akan menikah disaat zaman ini membebaskan perempuan untuk memilih sendiri jalan hidupnya?
             Pastinya akan seru sekali jika membayangkan Kartini dapat terbang dari masa lalunya yang penuh dengan keningratan ke masa sekarang saat liberalisasi dijunjung tinggi. Apakah dia akan menangis tersedu-sedu atau malah bangga melihat banyaknya perempuan yang bebas speak up her mind?
             Sekarang-sekarang ini di Indonesia sendiri banyak Kartini-Kartini lain yang bermunculan dan tidak menjadi sorotan saking banyaknya. Mereka inspiratif, berkarya, dan berani untuk memperjuangkan hak-haknya. Mereka bisa menjadi CEO perusahaan (Ligwina Hananto), Chief Editor majalah ternama (Fira Basuki), dan aktif dalam bidang kemanusiaan (Valencia M. R.). Dan jutaan lain sebagainya yang hidup dan tinggal dalam lingkungan tidak tersorot media. 
Courtesy of Google Image
             Pada hakikatnya, perempuan itu sendiri lahir sebagai pejuang, diluar ia bisa berkontribusi terhadap khalayak masal. Mereka lahir dengan organ tubuh yang dirancang sedemikian rumit dan hebat oleh Tuhan YME dengan siklus nyeri pada rahim sebulan sekali, agar bisa memelihara makhluk hidup dalam perutnya, dan perjuangan untuk melahirkan didefinisikan sebagai sakit yang sama rasanya seperti dibakar hidup-hidup (saya pernah membaca pada sebuah akun twitter). Belum lagi diciptakannya sepatu tinggi (stilletos, pumps, wedges, boots, you name it) yang pemakaiannya menyebabkan risiko penyumbatan syaraf hingga dapat terserang osteoporosis. Demi sebuah prinsip "Beauty is pain" (but ugly is more pain, kalau kata teman saya, hahaha).


             Sekarang keinginan saya adalah membeli buku "Panggil Aku Kartini Saja"
Courtesy of Google Image 
karangan penulis yang saya sangat kagumi karena karyanya telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa dengan royalti yang diperebutkan beberapa negara, Pramoedya A. Toer. Selamat hari Kartini!






Rabu, 17 April 2013

Kelakuan Bocah Tua Nakal

Hari ini semua orang di kantor sibuk menggigil kedinginan dan ketika break makan siang saya menyempatkan diri untuk solat di mushala luar gedung, then I found the reason why - heavy rain drops all over the building (and I found out when I coming home it was all over town). Hari ini Jakarta turun hujan dengan curah yang tinggi dan berlangsung lama.

Ada salah satu supir kantor yang masuk setiap hari dan sukses selalu bikin saya cekikan hingga harus menutup mulut supaya tidak menganga lebar, namanya Frangkie. Perawakannya bulat dan kalau jalan, langkahnya diseret dengan tangan mengayun depan-belakang membayangi perutnya yang memunjung bulat. Diantara sekian banyak supir kantor yang sopan dan menjaga image, doi termasuk kategori slenge'an dan slonong boi. Saya sering banget beradu mulut dengannya padahal sebagai anak baru saya cukup menjaga attitude agar tidak ada alasan untuk mudah membuat kesal karyawan lain (masalah anak bawang banget). Cuma dia satu-satunya supir yang berani masuk ke ruangan marketing (yang digabung dengan tempat duduk para bos) tanpa permisi. Kalau sudah begitu, saya yang job desc-nya memang mengawasi orang-orang masuk (resepsionis), sekarang-sekarang ini mulai menegurnya, "itu ngapain lagi masuk-masuk aja?!" yang nanti akan dijawab oleh suara seraknya, "emang kenapa lo?" kemudian saya hanya akan membuang muka sambil terkikik. Emang iseng yang lumayan menyenangkan membuat emosinya meninggi di kala waktu senggang.

Pagi tadi lagi-lagi dia mengumpat kecil depan meja saya (setiap hari ada aja keluhannya mengenai hidup), saya pun tidak membuang waktu dengan segera meladeninya, "kenapa, pak?"
Frangkie (F): Si pak haji mana ya?
Saya (S): Pak Haji siapa sih?
F: ituloh yang duduk disamping bu Ida
S: pak Mato?
F: Bukan itu mah didepannya. Ituloh yang disamping orang Jepang.
S: pak Nonaka-san?
F: Bukan. Ya itu kan orang Jepangnya.
Karena saya orangnya mudah putus asa, kebetulan ada teman kerja yang lewat, langsung saja saya todong, "eh yang duduk disamping bu Ida siapa sih?" dan teman saya itu pun menyebutkan sederet nama bagian sales overseas yang digubris oleh Frangkie, "bukan! Yang duduk disamping orang Jepang yang namanya... Hanamasa ya, eh..."
Teman Kerja Saya: Oi, itu mah nama restoran!
F: Iya kalo Sumanto itu disebrangnya bu Ida kan...
S: (setengah geli membayangkan mantan narapidana kanibal ternyata satu ruangan)

Si Frangkie ini kalau lagi nggak ada karyawan yang harus dinas keluar alias lagi nggak ada kerjaan, cara mengisi waktunya adalah tidur. Saya yang mempunyai hobi yang sama tapi ga bisa karena tentu saja harus stand by dengan pekerjaan sering menatapnya iri kemudian berujar, "enak banget hidup lo, Frangkie," yang direspon dengan tatapan malasnya. Tempat yang dijadikan untuk tidur adalah sebuah store room yang akhirnya dijadikan ruangan (sempit) serbaguna oleh karyawan yang lain seperti untuk makan dan solat. Letaknya tidak jauh dari meja saya bekerja. Hanya dalam hitungan menit, dengkuran yang tidak ada halus-halusnya mulai bergema sepanjang ruangan. OB senior kadang mengeluh disamping saya mengenai kelakuannya yang dinilai tidak sopan dan mengganggu (terkadang OB saya itu setiap pagi berharap supaya Frangkie banyak kerjaan sehingga tidak datang mengganggu di kantor). Yang membuat saya geli, ada seorang teman, namanya Reza, ia sering melewati store room itu berkomentar terhadap ngoroknya Frangkie, "mirip suara anak T-rex. Tau nggak, yang di film Jurassic Park..." couldn't agree more. Semenjak itu jika ada Frangkie, saya dan teman saya itu meledekinya dengan sebutan Tyranosaurus.

Kecintaan seseorang terhadap tidur lamban laun membuatnya berkarakter pelor, nempel-molor, dimana saja, kapan saja, bisa. Saya mengerti sekali kondisi ini dikarenakan keahlian pada hal itu (blame it on narcolepsy, penyakit yang menyerang syaraf sehingga R.E.M seseorang berbeda dari orang normal lainnya yang bisa hanya dalam waktu kurang dari 5 menit). Dan itulah yang dilakukan Frangkie ketika store room sedang occupied baik karena ada supir lain sedang tidur atau karena kegiatan lain. Dia mengambil posisi di sofa yang notabene di depan meja saya yang notabene disamping pintu masuk kantor, kemudian dengan nyenyaknya, tidur. Pulas. Komplit dengan ngoroknya yang cetar membahenol. No pict=hoax, right?

Frangkie memelihara anak T-rex dalam perutnya

Frangkie tampak depan
Foto diambil berdasarkan gagasan saya yang terperangah seseorang bisa menjaga kestabilan handphone di antara dahi dan hidungnya dalam posisi tidur dan dengkuran nyaring, jadilah Reza fotografer dadakan pada pagi itu.

Rabu, 27 Februari 2013

Hari ke 27 di Bulan 2 hitungan 2013 tahun

Judulnya ko sok kreatif banget yah... hehe. Well, it's my mom's birthday actually and I have given her a greetings *cupmuah*. She's 56 years old now but still look pretty as I am (is she the one forever young or am I the one old preserve?)
Being old doesn't mean being bored, some say your life is begun at the age of 40. So what is happen if I don't exist to that age?! hahah scary. Yesterday I went out of town with my boyfriend's father - since he work in remote island at Papua - so I got to talking a lot with him and he's so much comfortable and easy to chat with. Maybe because he has lot of business so his brain as sharp as young guy. But honestly at first he's talking a lot and I was like too fast to follow his meaning, haha slow loading.
Anyway being old is for sure but, being forever young is something you can choose, and of course maturity is all about personality, not age. From old song The Ataris said, being grown up isn't half as fun as growing up! (agree!)

Lately I have this strangest feeling... (sekalian nyanyi Lately -nya Stevie Wonder) saya punya kebiasaan setiap malam youtube film Boys Before Flowers, yupe F4 nya Korea. Setelah 25 episodes yang penuh drama, akhirnya berakhir juga malam-malam buffering di tempat tidur. Anehnya saya merasa sedih berpisah dengan Goo Jun Pyo. Nggak suka sama Lee Min Ho, sosok kaya, ganteng (banget), dan ga romantis-nya bikin..........................

Adegan ini ketika ceweknya lagi jualan biskuit beras dipinggir jalan dan Jun Pyo sibuk dicemooh oleh ibunya di dalam mobil. Ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan ditengah kemacetan jalan ia mencium ceweknya yang sedang memegang barang dagangan

Annyeong. Saranghaeyo.