Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2013

Flying Fish in Bali

Pertama kali diajak sepupu langsung "hayok!" karena pada dasarnya aku tipe orang yang seneng nyobain semua hal, walau to tell truth ga tau apaan tuh "Flying Fish". Semacam jadi nelayankah?


Ternyata sebuah olahraga air terbaru yang sangat memacu adrenaline. Mengandalkan laju kencang angin yang ditarik oleh speed boat sehingga "ban" yang kita tumpangi akan melayang sampai tinggi 5 m. Untuk menaiki Fly Fish harus dua orang, tok. Agar melayang seimbang.

Water sport ini bisa ditemui di Tanjung Benoa, Bali. Dan, jangan banget menaiki saat holiday season, the price is so high. Saya dan sepupu dikenakan 400 ribu per pax disaat harga normal adalah Rp 75 ribu per orang (which mean 150 ribu per pax). Gila memang bagaimana orang bisa mengeruk rezeki (otak marketingnya muter). I bet many businessman got big leprechaun too in this Christmast Holiday. Nama tempat yang memang terkenal menampung berbagai aktivitas air ini adalah "Basuka". Fasilitasnya lengkap mulai dari banana boat hingga parasailing. Hanya saja ketika kami datang kesana, para penjaga-nya bilang arah anginnya lagi gak bagus. Entahlah. Oh ya, para penjaga ini sangat friendly dan doyan becanda. Bagi yang risih dengan serangan SKSD attack, banyak nahan tangan ya kalo nggak mau kelepasan nonjok.

me and my cousin pose sebelum ber-ikan terbang



Senin, 09 September 2013

Tedak Siten


Tedak siten adalah suatu upacara dalam tradisi budaya Jawa yang dilakukan ketika anak pertama belajar jalan dan dilaksanakan pada usia sekitar tujuh atau delapan bulan.
Secara keseluruhan, upacara ini bermakna untuk mengajarkan konsep kemandirian pada anak. (Sumber Wikipedia)
Hari ini sangat menyenangkan karena keponakan saya yang bernama Rr. Anggita Madeena Citrahayi atau yang biasa dipanggil Emma merayakan upacara adat "Tedak Siten" seperti yang sudah dijelaskan diatas, merupakan upacara tradisional "Turun Tanah" yang dilakukan oleh orang adat Jawa. Kebetulan kakak ipar saya totok alias Jawa asli yang konon neneknya itu merupakan salah satu selir dari Hamengkubuwono (berapa gitu) dari 40 selir yang ada.

Acara yang bertempat di rumah besan - Sleman, Jogjakarta - berlangsung dengan meriah dengan didirikannya panggung dan sajian buffet untuk makan siang. Peralatan yang digunakan pun terbilang lengkap plus seorang MC asli Jawa yang menjadi narator selama upacara berlangsung sehingga tamu yang menonton tidak kebingungan dengan begitu banyaknya barang dan aksi adat yang sarat dengan simbolik. Seperti awalnya, sang anak - Emma - harus mencuci kaki pada baskom emas yang telah disediakan kemudian melewati wajik (adonan seperti dodol) 6 warna. Setiap injakannya pada warna wajik tertentu mewakili harapan kepada kehidupan. Seperti wajik warna putih, harapan akan selalu ingat kepada Tuhan yang maha esa dalam tiap langkahnya. Dan seterusnya untuk warna coklat, hijau, merah muda, dan lain-lain. Dibawah ini momen yang berhasil diambil namun mohon maaf yah kelihatannya dari belakang, tapi tetap keambil kok suasananya hahahaha *defensif*

Prosesi Menginjak Wajik 6 Rupa dituntun oleh Orang Tuanya

 "Senin, Selasa, Rabu..." dan Emma pun menangis ketika hari Minggu
Raut muka betek Emma di kursi tebu
Setelah itu, sang anak disuruh menapaki tangga yang terbuat dari batang tebu dengan harapan hari-hari yang dilalui akan manis seperti tebu. Sembari ditapaki, narator mengucapkan nama-nama hari sesuai dengan tapakan kaki. Selesai menapaki tangga, sang anak didudukan pada kursi kecil yang terbuat dari batang pohon tebu yang serupa.

Emma akan dimasukan ke dalam kurung
Kemudian bagian yang ditunggu pun tiba, yaitu bagian ketika si anak dimasukan ke dalam kurungan besar serupa kurungan ayam dan disitu dia harus memilih barang-barang yang masing-masingnya mempunyai arti sendiri. Benda yang diambil itu dapat mewakili profesi atau hal-hal yang dia senangi ketika besar. Benda pertama yang diambil Emma adalah boneka, kata sang narator, itu tandanya Emma akan tumbuh menjadi anak yang feminim. Kemudian sempoa warna-warni. Tandanya Emma akan senang berhitung, "menghitung apa? Tentunya menghitung rejekinya sendiri..." Amin. Kemudian benda terakhir yang diambil dan tidak dilepas-lepas adalah ratusan ribu uang rupiah beserta dolar yang ditaruh. Tandanya Emma senang mencari duit. Well, who doesn't?!

Simbol dari kurungan adalah seorang anak yang tidak keluar dari norma  sosial




Dolar yang masih dipegang ketika prosesi mandi kembang oleh para Eyang




Setelah dimandikan kembang oleh para Eyang Kakung dan Eyang Putri, Emma diberikan sebuah tombak yang lagi-lagi terbuat dari batang tebu, dengan ayam bakar yang dicolok diatasnya. Ayam bakar yang mati dengan cara sangat amat pedih saya pikir, karena mulutnya terbuka lebar dengan badan yang hangus. Anyway, prosesi ini adalah sebagai lambang Emma akan tumbuh sebagai anak yang pemberani.

Tongkat kebesaran anak dengan puncak ayam yang menyedihkan

Sementara itu, para Eyang Putri melempar uang yang telah dilinting disertai dengan permen dan butiran kacang hijau agar lemparannya mungkin menyebar *ngasal* 



Tamu yang diundang dari lembaga asing pun berebutan mengambil uang

Lintingan uang terdiri atas lembaran recehan 2000 dan 5000 rupiah. Ada juga diselipkan nomor door prize. Sementara itu bocah yang telah dimandikan pun telah berganti baju. Prosesi selanjutnya adalah Emma membagikan mainan kepada para undangan sebagai wujud sifat welas asih dan pemurah

Emma dan telur rebus siap dibagikan

Berebutan mainan tradisional yang sekarang mulai susah didapatkan

Last but not least, my lovely beautiful niece, cheers! 









Senin, 12 April 2010

A Slight of Papa

Kenapa ya kalau saya mengutarakan salah satu kisah dari kehidupan yang saya tau ke bokap, ujung-ujungnya malah jadi bumerang. salah satu contoh dari kesekian kali adalah kemarin ketika di mobil, saya menceritakan karakter temen-temen saya yang terlalu pintar hingga akhirnya "keblinger" sendiri. maksudnya adalah beberapa dari mereka dengan pemikiran-pemikirannya yang dahsyat, jika tidak menjadi agnostic, mereka kemudian menjadi atheis, tidak mempercayai Tuhan, karena mereka berfikir selalu dengan rasional dan tidak mengerti apalagi mau untuk mengerti masalah yang ghaib. atau jika tidak menjadi keduanya, mereka malah masuk ke politheisme. oke, diluar masalah itu, yang mau saya utarakan adalah, ketika ayah saya mendengar masalah teman-teman saya ini, dia langsung berceloteh, marah. panjang lebar. katanya yang semua itu karena fondasi agamanya lemah dan sebetulnya semua nyata kalau mereka mau belajar.
diam-diam saya merasa kecewa. saya kecewa karena saya hanya bisa bungkam dan menyesalkan ayah saya yang kolot. seandainya bisa diajak berbagi fikiran, alih-alih menjadikan pembicaraan satu arah, dan beliau tidak perlu berbicara marah sebenarnya. dan coba lihat saya, apakah saya yang seperti hingga beliau harus "menggerendel" seolah-olah saya yang tidak percaya atau malah percaya dengan banyak Tuhan? Entahlah mungkin saya berharap terlalu banyak, karena yang saya harapkan adalah beliau merasa lega/senang karena anaknya "lurus-lurus aja".
itu kejadian kemarin. kejadian hari ini bermula dari cerita teman beliau yang mobilnya dirampok dengan modus dipepet motor dari samping dan mobil dari belakang. ketika teman beliau keluar dari mobilnya, entah untuk marah-marah atau hanya mengecek bagian yang terserempet, perampok-perampok pun langsung beraksi. mempreteli semua bajunya, memplester mulutnya (duh), melarikan mobilnya.
saya yang teringat modus-modus perampokan lain yang saya tau, saya utarakan semua. termasuk cerita terakhir yang baru-baru ini terjadi saya baca, yaitu ketika seorang wanita yang menaiki taksi dari Blok M menuju rumahnya di kota Wisata, Bogor, dirampok oleh sekawanan yang diduga besar supir taksi ini ikut terlibat. belasan juta pun habis dipreteli sambil perampok-perampok itu menodongkan senjata tajam.
Reaksi ayah saya bisa diduga, namun tetap tidak bisa dimengerti. mengoceh marah. memberi nasihat saya tidak boleh pulang malam lagi (yah, jadi kena imbasnya), menyuruh sering membaca Al quran, dan mengoceh lagi. marah lagi. sekali lagi saya dibuat diam padahal sedang asyik ingin sharing. sekali lagi saya kecewa.
Pada akhirnya sudah bisa ditebak untuk kedepannya saya jadi malas cerita-cerita.
saya sayang dengan ayah saya, dan beliau pun begitu. well maybe just keep it in nature. don't need to make conversation, don't need to tell, don't need to share. Just live the relation base on DNA similar.