Tampilkan postingan dengan label vacation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vacation. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

Emak-emak Rempong Bawa Bayi ke Jepang

Ohaiyo Gozaimasu!

Well, maybe the spell isn't correct, but it's like that roughly.

So, for holiday season, me and my husband decided to Babymoon in Japan! Yaaiyy!

First thing first, catching up a flight. It's a very-very-very important to go on the airport way early on time. In my experienced, we have to face a massive traffic in entering airport terminal. Mentioning people celebrating Christmast and many Umrah Tour on the line!

By chance, we have a night flight. Around 8 Pm by GA. Sadly, we have terrible issue with the travel agent we had paid before. My baby is registered as adult because actually we bought the ticket at Travel Fair long way before (8 months ago to be exact). The travel agent said, we couldnt buy as an infant as it's their promo. So, we bought a whole seat price. But then, the airline company demand a 10% price whereas we already paid for 3 tickets. So we have to buy one more infant price and burn the 1 ticket we book for the baby! What a loss! $500 are floating away! Huft. As long our Baby N can go along with us. But really, I'm so angry with the unprofessional agent travel we had dealing and promise never want to buy anything in there anymore 😡

Back then, what's more important is my baby safe and sound in the bassinet's plane om the way to NRT, Japan, yeay!


My Baby sleep Peacefully inside bassinet of the plane
Mengenai membawa Baby N sepanjang perjalanan, tidak ada trik khusus. Mungkin karena jam penerbangan yang dimulai pada malam hari jadi saya tenang saja. Kebetulan jam tidur N sudah rutin semenjak usianya 3 bulan yaitu setiap pukul 7 malam. Penerbangan pertama (untuk transit ke Bali), N tidur pukul 8.30 malam. I think she's join our excitement! Plus, dia suka banget liat Bule ganteng disebelah saya, hihi. Sampai tuh bule ketawa geli karena N bisa lagi rewel karena ngantuk sama Ibu-Ayahnya, tapi langsung kasih senyum 3 jari liat tuh bule. Hmm... like mother like daughter yah... 😜
Sesampainya di Narita pukul 8 pagi waktu setempat. FYI, waktu Tokyo ini beda 2 jam dengan di Jakarta. Baby N juga tidak ada kerewelan yang berarti. Alhamdulillah. Hanya saja capek pasti berasa. Pertama karena waktu transit saat tengah malam. Kedua, karena posisi tidur yang tentu saja tidak nyaman di bangku pesawat. Ditambah lagi stroller Baby N hilang. 😱😱😱
Usut punya usut, seharusnya ketika transit di DPS, kami seharusnya mengambil stroller disana. Yang mana tidak kami lakukan. Jadi tertinggallah stroller itu... Untuk petugas bandara di Narita koperatif dengan menghubungi pihak bandara di DPS dan berjanji untuk mengantar stroller tersebut ke tempat penginapan kami di Tokyo. (Yang sayangnya baru datang 5 hari kemudian dan saat itu kami tengah "hijrah" ke Osaka. Jadilah dikirim lagi ke kantor Garuda di Narita)

Di kereta perjalanan menuju apartemen yang telah kami sewa

Mengenai alamat dan cara untuk sampai ke apartemen jujur saja saya "lepas tangan" dalam arti menyerahkan segala urusan kepada suami saya. Saya prefer mengurus segala keperluan untuk Baby N, seperti urusan makanan, pakaian, dan segala perlengkapannya.

Oke, mengenai detil urusan Baby N dibahas satu-satu ya...
Makanan: Untuk rencana liburan 12 hari di Jepang, akhirnya saya "menyerah" dengan idealisme No Instant Food for Baby. Atau No Factory Made. Secara saya juga gak ngasih perawatan tubuh untuk baby yang "pabrikan". Intinya saya melihat produk-produk yang sekarang beredar terlalu dikomersialisasikan. Termasuk urusan makanan untuk Bayi, namun beberapa hari sebelum berangkat, saya dan suami akhirnya berbelanja instant food. Dengan pertimbangan kompromi akan liburan kami yang menjauhi dari rutinitas dari hari biasanya. 

Food finger yang kami beli adalah Happy Family. Puffs rasa Purple Carrot dan Blueberry. Kayaknya N suka teksturnya dan rasanya enak. Selalu dilahap kalau disuapi. Satu lagi dari merk Organix rasa Carrots & Tomatoes. N agak lama dan berantakan kalau makan ini, jadi kalah pamor dengan merk food finger yang satu lagi. 

Kemudian untuk makannya kami membeli dari Heinz. Merk import ini, N selalu melahap habis rasa Blueberry dan Banana. Keduanya jenis oat. Ada satu hari N menolak kedua instant food tersebut, mungkin karena waktu pemberiannya yang kurang tepat (terlalu berdekatan dengan pemberian ASI atau terlalu sering), jadi dicoba lagi di kemudian hari dengan diselingi beberapa fresh food, N kembali melahap habis Heinz tersebut.
Satu lagi merk luar negri adalah Organix multigrain dengan bungkus berwarna ungu. N suka sih, tapi isinya kurang beragam. Lebih bagus jika ada buah sebagai campuran. Namun, setelah "trial & error" masukin strawberry, blueberry, dan pisang, tuh multigrain gak kesentuh..  Untuk yang merk lokal sendiri ada Promina rasa Nasi Tim dan Nestle rasa Cerelac. Saya jarang memberikan kedua instant food ini, karena kurang cocok dengan teksturnya. N sendiri tidak pernah habis jika diberikan kedua baby food ini. Namun tetap saya bawa kemana-mana dengan pertimbangan urgensinya.

Kebetulan saya dan suami bersepakat untuk memilih penginapan dari Air BnB dengan pertimbangan kitchen utensils-nya, jadi kami tetap bisa memberikan fresh food untuk N. Selain itu mesin cucinya juga berguna sekali agar kami tidak membawa "oleh-oleh" saat pulang ke kampung halaman. 

Sekian dulu sebagian kecil cerita saya liburan ke negeri sakura membawa Baby N.

From Tokyo with love, 

Photo was taken in Yaetsu Gran Exit Station




Jumat, 05 Desember 2014

Sail to Raja Ampat, Pianemo - Arborek

From where we stayed (me, and my husband's friends - read latest post Dayan - Batanta, Raja Ampat) it took 2 hours by speed boat to reach Pianemo. What is Pianemo? well, I can't describe it completely but it is one of most visit spot if tourist came in here. Dan ketika kami datang, tempat ini baru diperbaharui dikarenakan even Sailing Raja Ampat yang belum lama terlaksana, Pak SBY gituloh yang datang. Saat itu dia sedang masa-masa terakhir menjabat kepresidenan (23 Agustus 2014).

Anyway, you knew you close to Pianemo when you see mini archipelago like this:

This is not a black and white filter, it's just so cloudy when we get there
Apa sih yang dicari dengan mendatangi Pianemo? Well, the view is absolutely amazing, for sure. Beside that, kalau mau berenang di semi air tawar makan disini tempatnya. Yup, Pianemo juga terdapat atol yang terbentuk. Some say it's like Wayag mini version. Wayag merupakan salah satu tempat faforit bagi pengunjung lokal maupun mancanegara. Namun suami tidak memutuskan kesana karena mendangar kabar tentang penduduknya yang suka mendadak nge-blok wisatawan yang datang tanpa sebab yang jelas. Masalahnya, untuk mencapai kesana juga membutuhkan banyak waktu dan bensin, yang artinya biaya yang lumayan. Dari Pianemo sendiri ke Wayag masih berkisar 3 jam perjalanan lagi.

Bagi beberapa yang ingin mendaki dengan pemandangan pantai yang indah juga melarikan dirinya ke Pianemo ini. Kami sendiri langsung dialihkan untuk menikmati pemandangan melalui tebing. Well, there's a lot of price for it (in this case, betis yang kenceeenggg):
Look at those stairs!

Saking panjangnya tangga ini,terdapat kurang lebih 3 pos untuk kita beristirahat. Huh hah huh hah.

Pemandangan ini yang akan kita lihat setelah melewati 'rintangan' ratusan anak tangga


Beberapa penduduk lokal yang ikut menikmati pemandangan Pianemo

Setelah turun, saya membasahi tubuh sebentar di danaunya. Airnya lumayan menyegarkan dengan pemandangan yang menakjubkan setelah dilihat dari atas tebing tadi. Tanpa banyak membuang waktu, kami berempat melanjutkan perjalanan ke Kampung Arborek.

Kampung Arborek merupakan sebuah desa wisata yang cukup terkenal juga di kalangan pemerintah pusat hingga ke internasional. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengelilingi Desa ini. Ketika saya dan suami kesana juga terdapat beberapa divers asing yang sedang bersiap untuk menyelam. Ya, tempat ini memang menyewakan penginapan. Namun bukan berarti tersedia perlengkapan snorkling dan diving, kita memang harus membawa sendiri-sendiri.

Menurut saya, pemandangan lautnya lebih indah dibandingkan di Pulau Dayan. Bagi yang malas menyelam pun bisa melihat ikan-ikan berenang dari atas tempat kapal berlabuh karena airnya sangat bening dan jernih.


The reefs seeing from outside water


The divers I told before





Hundreds of fish on the side
 




But first, let me take a selfie, Cheers!

Rabu, 03 Desember 2014

Dayan - Batanta, Raja Ampat

Banyak yang mengeluhkan harga tiket yang mahal untuk mencapai kesana, itu tidak dipungkiri. Namun memang ada harga ada rupa (kata orang-orang lama :p), jika kamu tipe yang menyukai keindahan bawah laut maka disinilah tempat yang tepat. Selain suasananya yang masih "perawan", airnya jernih dan kaya akan jenis terumbu karang serta ikan, a spoil to the eyes :)

Please take a look;




Gambar-gambar diatas merupakan pemandangan yang bisa dilihat di mess laut atau dengan kata lain tempat karyawan perusahaan menginap untuk pada hari kerja kembali beroperasi. Ya, saya memang menebeng pada one of my relative yang mempunyai kantor budidaya kerang disini.

Sore harinya, setelah para karyawan terbebas dari tugas, mereka mengajak saya untuk berenang cantik, ga jauh-jauh, spot yang sudah biasa mereka tuju saja. Mereka menamakan Pulau Dayan, sebuah spot snorkeling yang tidak bisa ditemukan dimana-mana, katanya ;)



Me and my husband spotted!

Sweater weather







Kejernihan airnya membuat kita serasa lagi hilir mudik di akuarium, sih. Dan palungnya ituloh, tsakep! Konon, topografi di dalam laut mengikuti daratan terbuka yang ada diatas laut. Bisa kita lihat, pulau-pulau kecil yang terlihat di lautatn Raja Ampat memang begitu tinggi dengan model seperti tebing, hampir tidak ada dataran untuk berpijaknya.




 Pulau Dayan ini merupakan sebuah pulau tidak berpenghuni yang ditinggalkan oleh penduduknya. Jadi kita bisa melihat gubug-gubug terbengkalai dan beberapa anjing yang ditinggalkan pemiliknya terdahulu :( saya suka kasih biskuit keju dan mereka memakannya dengan lahap - OOT yah.

Penampakan Pulau Dayan melalui kamera GoPro

Tambahan untuk foto-foto underwater-nya, siapa tahu belum puas, hehee...


Blue school fish is going to take an edu, I guess


You can see hundreds species of fish in the water surface
That's it for the section, next I will tell about Pianemo and Kampung Arborek. My husband and his friends are coincidental having survey to open some travel guide in Raja Ampat, so I have a chance to join a ride, for free! What a lucky bastard isn't me.

Selasa, 02 Desember 2014

Istania Writing Contest - Uniquely Travelling in Indonesia (Raja Ampat)

This short review in order to participate in writing contest by Istania.net:


My Unique Travel Moment – Pearl Cultivation in Raja Ampat, Indonesia



This mid year of 2014 I had a chance to visited the very end on Indonesia Island or as commonly known as Papua Island, the second largest island in the world after Greenland. Me and some of my friends tendency going to one of attractive diving spot on earth, Raja Ampat Island. To go there, we have to transit in Sorong’s airport town call Dominique Edward Osok and continue by 2 horus speedboat or half an hour airplane goes to Waisai – the capital of the island.

One of my friend has a relative in there so we’re going to Raja Ampat by private speed boat which consumed estimate time for 3,5 hours from local port straight to snorkling spot, in this destination is Batanta Island. What a heavenly panoramic in there, outside and inside of the water. The West Papua ocean is famous for its deep and trough pace, hence, the purity of its water also very clear. All of that makes it possible to breed clam that will produce pearl in that area.

By chance, my friend invite us to see pearl cultivation near our vacation spot. It is owned by national citizen and has been established for thirties years. The company also has partnership with several technician from Japan. The place located in the middle of the sea where the operation panel for planted and harvested is floating. The total number of year the pearl could be cultivate is average 4 years. First 2 years for develop the specific clam until mature enough for planting pearl seed (nukleus), then next 2 years are the moment when pearls ready for growth.
I’m so lucky available to see the examples of the perfect product. It is classified by color (shiny), round (shape), surface (thick), size, and reflection. After crop season, pearls are ready to export to Japan or any demand consumer in foreign or inside country.







Tambahan (personal note just for share :))
Perjalanan saya ke Dayan - Raja Ampat bukan untuk liburan semata, melainkan mengikuti ritme kerja dari suami yang memang rutin mengunjungi pulau sebagai situs kerjanya yang di bidang budidaya kerang/siput. Kenapa di Raja Ampat? Karena di lokasi ini plankton sebagai makanan kerang masih terjamin untuk menghidupi kerang. By the way yang dihasilkan oleh kerang ini adalah mutiara, yang siap panennya membutuhkan waktu 2 tahun sekali, belum termasuk waktu untuk mengembangkan kerangnya agar siap berproduksi, surely took a long time!




Proses dan alat-alatnya seperti di dokter gigi ya! Well, proses diatas dinamakan memasukkan sejenis manik-manik kecil ke dalam cangkang untuk diselimuti selama 2 tahun ke depan, dan itulah hasilnya berbentuk mutiara. Tempat pemeliharaannya di dalam laut, dengan tempat yang telah dibuat khusus, gambarnya dibawah ini.


Anyway, daging kerang yang telah dipanen bisa dimakan loh. Direndam kecap Jepang selama sehari, ta daaa, jadilah sashimi scallop! Pake wasabi pun sedap!



tambahan dari suami: 
Mutiara yang dihasilkan sangat bergantung dengan alam. Prosesnya mengandalkan kadar plankton, oksigen dalam air, kadar garam, dan suhu dari air laut itu sendiri. Jika semua itu tidak terjaga, contoh global warming yang menyebabkan kadar garam berkurang karena tingginya volume air, maka dapat membuat hasil dari produk mutiara tidak mumpuni (perfect).

Happy hunting!




Senin, 10 Februari 2014

Gosong di Gusung

Pulau Gusung ini letaknya nggak jauh dari Pulau Sangilaki yang memukau. Sebelum menjejakan kaki ke pulau tersebut, saya sudah girang duluan melihat penampakannya dari jauh melalui speed boat. Sebuah dataran berpasir putih yang luas tanpa ada satupun pohon yang menghalangi pemandangan. Saya pernah merasakan sebelumnya ketika bertandang ke Gili Nanggu di Lombok, namun "pulau mini" ini lebih menarik penglihatan karena airnya lebih jernih (bening cuy) dan pasirnya seperti berkilauan.

Enough said.





Saya langsung norak minta foto-foto
Kapan lagi bisa menyebrangi satu pulau ke pulau lainnya hanya dengan berjalan kaki saja? Sore itu laut mulai pasang memang sehingga arus mulai deras. Tapi nggak perlu takut kebawa karena dataran tempat berpijak luaaas banget, dan kejernihan airnya membuat kamu tetap bisa memperhatikan langkah, even sampai ke jari-jari kaki. 
Well, it is form perfectly for our eyes and mind :) Kali ini gegulingan pun dilancarkan ala putri duyung yang bisa membuat kehilangan gelar putri itu sendiri. Mungkin ikan dugong-dugong lebih cocok. Dan pada hari itu saya dan teman-teman sibuk mengucapkan tasbih dan tahmid, lebih sering daripada bulan-bulan suci lainnya. Rasanya waktu satu jam dan ratusan frame foto tidak cukup, kami pun meminta kepada guide untuk memperpanjang waktu di Pulau Gusung ini.
So, no wonder why my face skin was burned-out, wasn't? It is a price to pay anyway :D


Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail - Ralph Waldo

Another Fine Day in Derawan - Pulau Sangilaki



Spot difference between photos above!! Persamaannya jelas, sama-sama selfie bikin eneg. Perbedaannya: kulit di foto sebelah kiri masih putih terawat sedangkan kulit sebelah kanan basi-an terpapar galaknya sinar matahari di Derawan :D 

Looking back to several days earlier, setelah (terpaksa) puas main sama ubur-ubur di Danau Kakaban, the boat speeding through Sangilaki Island. Kurang lebih perjalanan 1 jam, sampailah kita di Pulau yang terkenal dengan penangkaran Penyu tersebut. And every baby is cute, isn't it, including turtles baby. Just check those out!





Ga mau kalah sama baby turtles yang banyak difoto-fotoin
It turns out, the island isn't less interesting with the cute turtle babies, it is soooo beautiful and I'm not exaggerating when I say paint-fully dreaming!

Pemandangan ini terletak di bagian belakang tempat penangkaran Penyu



And there's just eleven of us!



A photo says thousand words so I guess there's no use to describe how lovely it was. Puas gegulingan ala lumba-lumba, guide yang notabene penduduk lokal Derawan menggiring kita ke Pulau Gusung. 

Coming Up Next - How My Another Selfie Was A Burnt Face: Gosong di Pulau Gusung