Tampilkan postingan dengan label work. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label work. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

Dayan - Batanta, Raja Ampat

Banyak yang mengeluhkan harga tiket yang mahal untuk mencapai kesana, itu tidak dipungkiri. Namun memang ada harga ada rupa (kata orang-orang lama :p), jika kamu tipe yang menyukai keindahan bawah laut maka disinilah tempat yang tepat. Selain suasananya yang masih "perawan", airnya jernih dan kaya akan jenis terumbu karang serta ikan, a spoil to the eyes :)

Please take a look;




Gambar-gambar diatas merupakan pemandangan yang bisa dilihat di mess laut atau dengan kata lain tempat karyawan perusahaan menginap untuk pada hari kerja kembali beroperasi. Ya, saya memang menebeng pada one of my relative yang mempunyai kantor budidaya kerang disini.

Sore harinya, setelah para karyawan terbebas dari tugas, mereka mengajak saya untuk berenang cantik, ga jauh-jauh, spot yang sudah biasa mereka tuju saja. Mereka menamakan Pulau Dayan, sebuah spot snorkeling yang tidak bisa ditemukan dimana-mana, katanya ;)



Me and my husband spotted!

Sweater weather







Kejernihan airnya membuat kita serasa lagi hilir mudik di akuarium, sih. Dan palungnya ituloh, tsakep! Konon, topografi di dalam laut mengikuti daratan terbuka yang ada diatas laut. Bisa kita lihat, pulau-pulau kecil yang terlihat di lautatn Raja Ampat memang begitu tinggi dengan model seperti tebing, hampir tidak ada dataran untuk berpijaknya.




 Pulau Dayan ini merupakan sebuah pulau tidak berpenghuni yang ditinggalkan oleh penduduknya. Jadi kita bisa melihat gubug-gubug terbengkalai dan beberapa anjing yang ditinggalkan pemiliknya terdahulu :( saya suka kasih biskuit keju dan mereka memakannya dengan lahap - OOT yah.

Penampakan Pulau Dayan melalui kamera GoPro

Tambahan untuk foto-foto underwater-nya, siapa tahu belum puas, hehee...


Blue school fish is going to take an edu, I guess


You can see hundreds species of fish in the water surface
That's it for the section, next I will tell about Pianemo and Kampung Arborek. My husband and his friends are coincidental having survey to open some travel guide in Raja Ampat, so I have a chance to join a ride, for free! What a lucky bastard isn't me.

Selasa, 07 Mei 2013

Palmerah - Ciputat

Hari ini ngerasain bobroknya sistem transportasi dan tata kota di Jakarta. First of all I decided to take a train and I'm being the most on time person in office as soon as the timer is ringing - yupe, my office has a bell like in any other schools. Udah seneng banget ngebayangin sampe rumah jam 6 dan bisa gegoleran nonton Friends di channel Warner Bross TV. Walaupun mungkin episode-nya udah ditonton ratusan kali but still that's the quality time of my one hour life. But no! I have to bury my fucking hope because of (again and again) the train has a trouble time. Katanya ada yang mogok di salah satu stasiun, udah gitu stasiun yang saya tuju lagi. Melihat peron sudah mulai sesak dijejali oleh ratusan orang yang terus-terusan datang untuk pulang (atau kemanalah tujuan mereka setelah pulang kerja), saya dan kakak saya memutuskan untuk menggunakan transportasi lain - Saking frustrasinya melihat jadwal kereta yang bermasalah dan Rachel dkk. mulai menari-nari di kepala, saya lupa mengembalikan tiket kereta yang sudah dibeli. Bye bye tiket yang belum dipakai... We decided to take ojek or if the price is too high I suggested to going by taxi or even bus. Secara macetnya sama ini kan.
          Setelah tawar menawar yang dibumbui pura-pura meninggalkan pangkalan ojek demi harga yang dimau, didapatlah harga Rp 60 ribu - tapi akhirnya dibayar Rp 75 ribu/ojek karena ditengah jalan hujan turun sangat derasnya. Seperti biasa, di tempat-tempat yang ada flyover/by pass agak tersendat dikarenakan pemakai kendaraan bermotor yang lain menjadikannya tempat untuk berteduh. Belum lagi,  beberapa titik (lebih tepatnya sih banyak titik) ruas jalan yang berubah menjadi kali dadakan, bonus dengan aliran derasnya. Padahal hujan lebat turun belum ada jangka waktu satu jam.
         Ada yang bilang pengerukan tanah di Jakarta semakin tidak terkontrol, di sisi lain dikarenakan tumpukan sampah yang tidak pada tempatnya, sehingga menghambat saluran-saluran. Ada juga dikarenakan lahan yang seharusnya dijadikan tempat penyerapan ditiban oleh semen dan aspal - dengan kata lain, aliran air pun tergenang dan tidak bisa disimpan dalam bumi. Huft. Apapun itu, membuat saya ingin pindah domisili. Tapi kemana? Kota-kota besar di Indonesia sekarang ini memiliki masalah yang sama. Kemacetan dan banjir. Bahkan di kota Bandung yang dikenal dengan sebutan kota kembang, pada arteri-arterinya mulai diberlakukan 4 in 1. Kalah dong Jakarta. Dan Bali nggak usah ditanyain deh ya berhubung sedang ada proyek pembangunan bandara secara besar-besaran juga. Walaupun rumah saya di selatannya Jakarta (bukan Jakarta Selatan), namun imbasnya tetap terasa. Secara mata pencaharian dan sosialisasi tidak lepas dari daerah sana.
           I don't want to fight alone to make this world (at least, city) a better place. But until then, this is my fight :)


Hoahm... siwer mikirin Jakarta



Rabu, 17 April 2013

Kelakuan Bocah Tua Nakal

Hari ini semua orang di kantor sibuk menggigil kedinginan dan ketika break makan siang saya menyempatkan diri untuk solat di mushala luar gedung, then I found the reason why - heavy rain drops all over the building (and I found out when I coming home it was all over town). Hari ini Jakarta turun hujan dengan curah yang tinggi dan berlangsung lama.

Ada salah satu supir kantor yang masuk setiap hari dan sukses selalu bikin saya cekikan hingga harus menutup mulut supaya tidak menganga lebar, namanya Frangkie. Perawakannya bulat dan kalau jalan, langkahnya diseret dengan tangan mengayun depan-belakang membayangi perutnya yang memunjung bulat. Diantara sekian banyak supir kantor yang sopan dan menjaga image, doi termasuk kategori slenge'an dan slonong boi. Saya sering banget beradu mulut dengannya padahal sebagai anak baru saya cukup menjaga attitude agar tidak ada alasan untuk mudah membuat kesal karyawan lain (masalah anak bawang banget). Cuma dia satu-satunya supir yang berani masuk ke ruangan marketing (yang digabung dengan tempat duduk para bos) tanpa permisi. Kalau sudah begitu, saya yang job desc-nya memang mengawasi orang-orang masuk (resepsionis), sekarang-sekarang ini mulai menegurnya, "itu ngapain lagi masuk-masuk aja?!" yang nanti akan dijawab oleh suara seraknya, "emang kenapa lo?" kemudian saya hanya akan membuang muka sambil terkikik. Emang iseng yang lumayan menyenangkan membuat emosinya meninggi di kala waktu senggang.

Pagi tadi lagi-lagi dia mengumpat kecil depan meja saya (setiap hari ada aja keluhannya mengenai hidup), saya pun tidak membuang waktu dengan segera meladeninya, "kenapa, pak?"
Frangkie (F): Si pak haji mana ya?
Saya (S): Pak Haji siapa sih?
F: ituloh yang duduk disamping bu Ida
S: pak Mato?
F: Bukan itu mah didepannya. Ituloh yang disamping orang Jepang.
S: pak Nonaka-san?
F: Bukan. Ya itu kan orang Jepangnya.
Karena saya orangnya mudah putus asa, kebetulan ada teman kerja yang lewat, langsung saja saya todong, "eh yang duduk disamping bu Ida siapa sih?" dan teman saya itu pun menyebutkan sederet nama bagian sales overseas yang digubris oleh Frangkie, "bukan! Yang duduk disamping orang Jepang yang namanya... Hanamasa ya, eh..."
Teman Kerja Saya: Oi, itu mah nama restoran!
F: Iya kalo Sumanto itu disebrangnya bu Ida kan...
S: (setengah geli membayangkan mantan narapidana kanibal ternyata satu ruangan)

Si Frangkie ini kalau lagi nggak ada karyawan yang harus dinas keluar alias lagi nggak ada kerjaan, cara mengisi waktunya adalah tidur. Saya yang mempunyai hobi yang sama tapi ga bisa karena tentu saja harus stand by dengan pekerjaan sering menatapnya iri kemudian berujar, "enak banget hidup lo, Frangkie," yang direspon dengan tatapan malasnya. Tempat yang dijadikan untuk tidur adalah sebuah store room yang akhirnya dijadikan ruangan (sempit) serbaguna oleh karyawan yang lain seperti untuk makan dan solat. Letaknya tidak jauh dari meja saya bekerja. Hanya dalam hitungan menit, dengkuran yang tidak ada halus-halusnya mulai bergema sepanjang ruangan. OB senior kadang mengeluh disamping saya mengenai kelakuannya yang dinilai tidak sopan dan mengganggu (terkadang OB saya itu setiap pagi berharap supaya Frangkie banyak kerjaan sehingga tidak datang mengganggu di kantor). Yang membuat saya geli, ada seorang teman, namanya Reza, ia sering melewati store room itu berkomentar terhadap ngoroknya Frangkie, "mirip suara anak T-rex. Tau nggak, yang di film Jurassic Park..." couldn't agree more. Semenjak itu jika ada Frangkie, saya dan teman saya itu meledekinya dengan sebutan Tyranosaurus.

Kecintaan seseorang terhadap tidur lamban laun membuatnya berkarakter pelor, nempel-molor, dimana saja, kapan saja, bisa. Saya mengerti sekali kondisi ini dikarenakan keahlian pada hal itu (blame it on narcolepsy, penyakit yang menyerang syaraf sehingga R.E.M seseorang berbeda dari orang normal lainnya yang bisa hanya dalam waktu kurang dari 5 menit). Dan itulah yang dilakukan Frangkie ketika store room sedang occupied baik karena ada supir lain sedang tidur atau karena kegiatan lain. Dia mengambil posisi di sofa yang notabene di depan meja saya yang notabene disamping pintu masuk kantor, kemudian dengan nyenyaknya, tidur. Pulas. Komplit dengan ngoroknya yang cetar membahenol. No pict=hoax, right?

Frangkie memelihara anak T-rex dalam perutnya

Frangkie tampak depan
Foto diambil berdasarkan gagasan saya yang terperangah seseorang bisa menjaga kestabilan handphone di antara dahi dan hidungnya dalam posisi tidur dan dengkuran nyaring, jadilah Reza fotografer dadakan pada pagi itu.